Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

PEMILU

Baca buku pengetahuan itu penting. Dan yang terpenting adalah baca Al Qur'an. Baca dan eja itu berbeda. Kalo baca artinya sudah praktek, kalo eja yaa sekedar nyambungin kata-katanya aja. 

Sebisa mungkin kita bukan sekedar meng-eja buku apalagi Al Qur'an tapi BACA, IQRA' ! Rasulullah aja pas disuruh BACA sama Jibril bukan suruh baca IQRA'. Tapi disuruh baca tuh lingkungan kamu !

Ga mungkin dong Rasulullah pengusaha internasional ga bisa baca IQRA' doang? Pada saat itu kondisi Mekkah is jahiliyah, bodoh ! Kacau, rusak. Mungkin kayak sekarang Indonesia.

Kalo kita ngaku umat Islam, jalanin dong apa yang dijalankan Rasulullah? Apakah itu? IQRA' ! Yes, baca lingkungan kamu terus TAKE ACTION ! Jadi agen perubahan. Jangan jadi agen beras doang, hehe. 

Sekarang lagi rame-ramenya PEMILU. Banyak juga yang memilih GOLPUT. Partai apakah itu? 

GOLPUT itu bahaya. Pada saat kita ga peduli lagi sama Negara ini, hancurlah sudah. Mereka yg 'BEJAT' kuasai Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif.

Saya sangat setuju dengan pernyataan Anies Baswedan (isi detailnya lupa, hehe). Kita mesti mengawali, membersihkan tempat yang bersih itu dari tangan2 kotor. Caranya? Jangan GOLPUT di PEMILU 2014. Kita mesti menggunakan hak pilih pada Pemilu 2014 nanti.

Jangan sampai ada pihak-pihak yang memanfaatkan GOLPUT-nya kita di PEMILU nanti. Kalo kita aja, khususnya anak muda, udah APATIS dengan Negara-nya, lalu bakal jadi apa anak cucu kita nanti? Maka dari itu sukseskan PEMILU 2014.

Tapi saya ga percaya sama caleg atau calon pemimpin manapun, apalagi partainya. | Bro, Sis, ga semua caleg atau calon pemimpin itu BURUK. Sebelum memilih cermati terlebih dahulu latar belakang dan lain sebagainya agar kita ga beli kucing dalam karung. Jangan lihat partainya tapi personalnya. Inget, jangan pilih pelaku Money Politic.


Ini adalah tantangan. Kita mau berdiam diri atau turun tangan membenahi Negara ini? Ini Negara kita, bukan Negara para TIKUS itu ! Ini Negara demokrasi dan rakyat Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi itu yaitu PEMILU.

Ayo kita IQRA' seperti Rasulullah. Lalu lakukan 3M, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, Mulai dari sekarang !

Kalo teman-teman tidak percaya dengan caleg ataupun calon pemimpin pemerintahan nantinya, yuk mulai dari sekarang kita BERBUAT ! Caranya lakukan 3M tadi. Lalu daftarkan diri Anda menjadi Calon Legislatif maupun Eksekutif.

Sebelumnya kita sudah terlebih dahulu membangun diri menjadi pribadi yang berketuhanan Yang Maha Esa, Manusia yang Adil dan Beradab bukan BIADAB. Setelah itu sebarkan kepada lingkungan disekitar, kita buat satu kekuatan rakyat yang menginginkan perubahan. Terlebih wakil rakyat, HARUS mewakili Rakyat. Bukan seperti sekarang, mereka hanya mewakili ‘kenikmatan-kenikmatan’ yang Negara berikan.

kalaupun PEMILU 2014 kita belum bisa, masih ada PEMILU 2019. Jangan mau kalah dengan para TIKUS itu ! Inilah JIHAD pada zaman sekarang ! Berpartisipasi dalam PEMILU, baik jadi pemilih maupun calon terpilih. Jika kita tidak percaya dengan orang-orangnya, proses PEMILU, dan lain sebagainya, maka kita ciptakan PEMILU yang kita inginkan. Juga orang-orang di DPR RI dan pemerintahan sesuai yang kita harapkan.

Jangan cuma bisa mengeluh, mencaci orang dan kondisi. Jangan cuma berdoa tanpa ACTION, ianya PERCUMA ! Maka kalian pemudi pemuda bangsa, persiapkan diri untuk PEMILU 2019. Negara ini menunggu kalian !

Jika kalian saat ini hanya bisa berdiam diri dengan kedzoliman para wakil rakyat juga pemimpin Negara ini, sama saja kalian menyerahkan Negara ini, Negara rakyat Indonesia kepada TIKUS-TIKUS tak berharga itu. Mereka kuasai suara rakyat dengan pemilu, setelah itu mereka pergi entah kemana.

Jadi, masihkah kita berdiam diri? Gunakan hak PILIHMU !




p1

Jodoh Pasti Bertemu

Udah tau kalo jodoh pasti bertemu, ngapain masih juga modus sih? Ngapain masih juga sok-sok nyari jodoh dari sekarang padahal belum siap? Ngapain yang usianya udah dewasa masih galau kayak ABG, masih Ababil?

Udah tau kalo jodoh pasti bertemu, kenapa masih pake cara-cara ga halal? Kenapa ga isi hari-hari dengan memantaskan diri? Kenapa malah nyanyi doang "jodoh pasti bertemu"? Kenapa ga siapin diri, supaya Allah kasih yang PANTAS?

Jangan harap lah nilai (kualitas) kita D, pengen dapet jodoh kualitas A. Jangan ngarep. Peluk aja tuh guling. No Pain, No Gain. No Risk, No Gain. Ada usaha, ya ada hasil lah. Kalo usahanya 'haram' apa iya Allah kasih jodoh 'halal'?

Semua berawal dari diri sendiri. Mau perubahan seperti apa? Silakan mulai dari diri sendiri. Anda berteriak ya Anda bertindak dong. Jangan cuma teriak. Duh masih aja ya galau, emang ga tau kalo galau apalagi di sosmed itu artinya lagi nyebarin kemunkaran? Iyalah, energi negatif.

Udah tau kalo jodoh pasti bertemu, ngapain masih maksain diri pengen deket-deket tanpa kesiapan, tanpa kepantasan? Saya dapat teori, siapa yang suka padamu itulah cerminan dirimu.  Siapa yang kamu suka, itu memperlihatkan kualitas dirimu.

Udah tau kalo jodoh pasti bertemu, terus modus, modus, modus, jurus baru, jurus baru. Yailah, ga zaman brosis. Dunia ini terlalu banyak kemungkinan. Emang ga mikir kalo Allah bisa aja ga ngizinin kita ketemu jodoh di dunia (ga nikah) ? Nah loh, kalo gitu percuma dong ya udah modal perhatian, modal pulsa, modal perasaan, taunya Allah punya kehendak lain?

Makanya, pantaskan sadja diri. Ga usah lah memperlihatkan diri pribadi yang perhatian, penuh kasih sayang, dermawan, suka menabung, dll. Biar Allah yang menunjukkan jalan si jodoh itu melalui kepantasan diri.

Jodoh itu bukan soal siapa tapi ada apa dalam diri kita. Siapa mah gampang, asal ada apa tuh dalam diri kita. Kalo ga ada apa-apa, yaa udah miskin harta, miskin iman (pake cara modus), miskin ilmu, jelek lagi  siapa yang mau kalo bukan orang yang 11 12?

Menikah, bukan suatu perlombaan. Siapa cepat dia menang, tapi mengenai kedewasaan, siapa siap dia selamat. Pantaskan diri, Allah pasti berikan waktu yang pas untuk kita bertemu jodoh dunia akhirat. Keep calm, jika sudah ikhtiar dan Allah izinkan jodoh pasti bertemu.


@imardalilah

p1

Sandal

Sandal jepit yang dijual di warung-warung itu sering sekali dilihat sebelah mata. Dibilang ga keren,
kampungan, murahan, ga gaul, ga BANGET ! Dari sandal jepit yang harganya ga nyampe Rp. 10.000 itu bisa diambil pelajaran loh. Saya ambil generalnya aja ya, sandal.

Sandal, harganya berapapun pasti di pakainya di kaki, diinjek. Mau sandal harganya Rp.100juta pun saya yakin, haqqul yaqin tuh sandal pasti dipakai di kaki dan diinjek. Ga akan dipakai di kepala saking mahalnya. Beda dengan Peci, semurah apapun harganya pasti dipakai kepala. Itulah adil, menempatkan sesuatu pada tempatnya, sesuai potensi dirinya. Adil itu bukan menyamaratakan.

Sandal mah ga akan marah dia diinjek-injek oleh manusia, walaupun harganya selangit. Dari pakaian yang dikenakan, sandal bukanlah bagian yang mencolok, yang menjadi pusat perhatian orang lain. Padahal jika dilihat dari fungsinya sangat berperan untuk manusia.

Sandal, melindungi kaki dari benda-benda tajam yang dapat menyakiti dan merusak kaki manusia. Menjaga dari panasnya tanah dan aspal yang terkena sinar matahari. Tapi apakah dia pernah mengeluh? TIDAK !

Kita dapat mengambil pelajaran dari sandal. Sandal berapapun harganya, sebagus apapun modelnya, motifnya, dia akan tetap melaksanakan fungsi dirinya, tugasnya sebagai sandal. Mau dia kelihatan atau tidak oleh orang lain, dia akan tetap melaksanakan fungsi dirinya.

Sekalipun dia dibandingkan dengan peci yang harganya dibawah dia, dia tidak akan cemburu terhadap peci. Karena sandal tahu fungsi dirinya apa. Dia fokus menjalankan apa yang sudah menjadi kewajibannya, tugasnya.

Maka kita sebagai manusia sudah semestinya seperti itu. Fokus pada kewajiban dan tugas kita, tidak envy terhadap orang lain. Allah sudah menetapkan fungsi diri manusia yaitu menjadi khalifah fil ardh. Jadi, lakukan tugas dan kewajiban itu sebaik mungkin. Ga usah ‘liat’ malaikat yang bisa beribadah full tanpa godaan, tanpa hawa nafsu.

Manusia juga sering kan fokus pada orang lain "Rumput Tetangga Lebih Hijau". Padahal mah belum tentu, bisa jadi rumputnya sintetis kayak di iklan itu tuh, hehe. Syukuri apa yang sudah kita miliki, pasti nikmat Allah yang lain terlihat oleh kita.

Orang yang ingkar akan nikmat Allah itu ga bisa ngeliat nikmat Allah yang lain. Karena keingkarannya itu sudah menutupinya. Makanya Allah berfirman "Kalau kamu bersyukur, pasti Aku tambah. Tapi kalau kamu ingkar, azab-Ku sangat pedih".

Makhluk Allah yang paling sempurna adalah manusia, bukan malaikat apalagi setan dan iblis. Karena didalam diri manusia terdapat unsur baik dan buruk. Manusia itu sendiri yang menentukan akan menjadi manusia baik atau buruk. Namun sering manusia merasa bahwa mereka adalah makhluk yang ga sempurna. Menurut saya, kesempurnaan manusia itu terletak dari ketidaksempurnaannya.

Supaya manusia menjadi sempurna Allah memerintahkan untuk menikah agar saling melengkapi, hehe. Itu juga bisa diambil dari si sandal kan? Sejelek apapun modelnya, semurah apapun harganya, sandal pasti punya pasangan. Masa kita kalah sama sandal? Hehe...



@imardalilah

p1

Disiplin

Alhamdulillah hari ini bisa bersilaturahim kembali dengan adik-adik kelas saya yang kece-kece, hehe. Jumlahnya Alhamdulillah yaaa bertambah, ga nyangka. Silaturahim itu sangat perlu, biar ga asik dengan dunia sendiri. Memperpanjang umur, rezeki, dan katanya dari silaturahim bisa juga dapet jodoh loh :D

Tingtong sudah pukul 21.00, sudah malam dan harus segera pulang karena masing-masing masih punya kegiatan esok hari.

Sudah tiga per empat perjalanan dan ternyata macet. Ternyata karyawan pulang kerja. Kirain ga akan lama macetnya. Ga taunya hampir satu jam kena macet. Dalam kondisi seperti itu terlihat sekali ‘aslinya’ orang-orang.

Saya sering sekali kena macet dijalan tersebut. Untungnya tadi bukan dari kantor atau kampus, jadi ga begitu capek menghadapi kondisi macet yang bikin hopeless. Penyebab kemacetan sepertinya sama ya dimanapun yaitu tidak disiplin.

Coba kalau angkot disiplin ngetemnya dipinggir jalan. Angkot dan pengendara lain mau sabar, ga nyerobot jalan sebelahnya. Para pedagang pinggir jalan mau untuk agak lebih ke pinggir. Tidak terlalu menjorok ke aspal jalan.

Sungguh kondisi yang sangat crowded. Ditengah kemacetan seperti itu pengendara sepeda motor yang muak dan tidak sabar membunyikan klaksonnya. Bersamaan dan lama sekali. Memang dengan begitu jalanan jadi lancar? Bukannya malah bikin orang makin emosi?

Sudah jalanannya rusak, becek, banyak mobil truk. Karena ketidakdisiplinan satu dua pihak, banyak orang yang jadi korban. Karyawan di pabrik lain jadi terlambat, pengguna jalan pun terlambat sampai rumah atau sampai tujuan lainnya, mobil pengantar barang-barang pun jadi terlambat.

Coba bayangkan berapa banyak bensin yang ‘keluar’ karena kemacetan tersebut? Belum tenaga, emosi, dan waktu yang paling penting. Udah ga disiplin ditambah ga sabar. Makin parah. Masing-masing pengen jalan duluan, kebagian jalan duluan. Ga peduli orang yang didepan, belakang, samping kiri kanannya gimana.

Dalam kehidupan, banyak juga orang yang seperti itu. Egois, mementingkan diri sendiri. Yang penting dia menang, mau orang lain sakit kek, tersungkur kek. Coba setiap orang cerdas, memiliki kedisiplinan tinggi. Ga akan rugi bareng-bareng. Lebih baik menunggu 5-10 menit kan daripada kena macet yang berjam-jam?

Kondisi yang crowded seperti itu pasti saling menyalahkan. Salah si ini lah, itu lah. Ini juga yang bisa diambil pelajaran. Koreksilah ke dalam diri sendiri, bukan menyalahkan orang lain dan lingkungan. “Ini sih salah pemerintah jalannya rusak, ini mah salah angkot ngetem ditengah, ini salah motor maen serobot aja, ini salah yang jualan dipinggir jalan, ini salah pabrik nih karyawan keluar jam segini, ini salah orang yang pada jemput nih parkir sembarangan”.

Fokus pada apanya yang salah bukan siapa yang salah, kemudian perbaiki. Kebanyakan kita mencari yang salah. Pada saat masalah datang sibuk menyalahkan “gara-gara si itu saya jadi begini”. Padahal simple solusinya, NGACA !

Ga sedikit juga orang yang ga disiplin merugikan banyak pihak. Gara-gara nunggu teman satu dua jam, akhirnya kehilangan kesempatan. Maka sangat penting memiliki sikap disiplin agar tak merugikan orang lain dan juga milikilah kesabaran. Saat macet saya memilih sabar, kalaupun nglakson ga akan jalan terbuka lebar untuk saya. Sabar itu tiada batas namun kita yang membatasi.



@imardalilah

p1

Jodohmu Ada Di Sekitarmu

Katanya jodoh itu ada disekitar kita? 

Ya benar, jodoh itu sesungguhnya ada disekitar kita. Coba saja lihat orang-orang yang telah menikah, pasti jodohnya engga jauh-jauh deh. Teman satu komunitas, teman satu perusahaan, teman sekolah dulu, teman dikampus, dan lainnya. Bahkan guru saya bertemu jodohnya via Facebook. Siapa yang menduga?

Jodohmu ada disekitarmu. Artinya jodoh kita tuh ada dalam lingkungan kita. Entah itu perusahaan tempat bekerja, komunitas -baik komunitas alumni, wirausaha, arisan, atau yang lain-, bahkan sosial media. Tandanya kita mesti SILATURAHIM kalau mau dapet jodoh.

Katanya jodoh itu ga kemana, iya tapi kalau ga kemana-mana gimana mau dapet jodoh?

Saya menyebutnya dengan menjemput jodoh. Kenapa bukan mencari? Kata guru saya kalo mencari itu belum tentu jodohnya udah ada. Nah kalo menjemput berarti jodohnya udah ada. Kenapa mesti dijemput? Kalo ga dijemput nanti bisa-bisa diserobot orang lain, hehehe.

Menjemput jodoh jangan sampai salah umpan dan salah kolam. Mau jemput jodoh kelas PAUS eh umpannya cacing atau ikan teri terus mancingnya di sungai. Bodoh itu namanya. Kok bisa begitu? Karena ga tau ilmunya, jadi asal jalan. Keinginan dengan kepantasan ga sesuai.

Contohnya gini deh, mau jodohnya pengusaha yaa gabunglah dengan komunitas pengusaha. Jangan sampai pengen jodoh pengusaha tapi ga pernah keluar rumah, sekalinya keluar rumah cuma buat beli indomie. Kalo kayak gitu yaa dapetnya paling si Brad Pit hansip kampung sebelah. 

Jodoh itu ada disekitarmu. Sekarang tentuin mau kriteria seperti apa, bilang sama Allah. Allah kan Maha Kaya, stok-nya pasti banyak. Ga usah takut ga kebagian. Kalo takut ga kebagian artinya ketauhidan kita perlu dipertanyakan tuh. Masa ga yakin sama Allah Yang Maha Kaya? TER-LA-LU !!!

Kalau udah tau kriterianya seperti apa, tinggal cari tuh 'kolamnya'. Namun sebelumnya sudah mempersiapkan umpan. Apa umpannya? Kepantasan diri dong. Apa sih itu? Duh, nanya mulu yaa kayak wartawan.

Misal mau jodoh pengusaha, cobalah belajar tentang wirausaha. Belajar juga tentang pengembangan diri dan ilmu apapun yang bikin kita punya banyak ilmu dan pengetahuan. Intinya sih fokus pada pengembangan diri. Ibarat bunga dia ga perlu tebar pesona supaya kumbang datengin dia. Begitu juga manusia dalam menjemput jodohnya.

Upgrade diri, jadilah orang yang WOW supaya pesona kita tersebar dan si kumbang-kumbang itu deketin kita deh. Hehehe. Jangan malah tebar pesona sama orang yang kita suka, itu namanya (maaf) 'MURAHAN' dan ga yakin sama Allah. Ketauhidannya mesti dipertanyakan lagi tuh. 

Kalo udah paham umpan apa yang mesti disiapin, lanjut hunting kolamnya. 

Proses penjemputan jodoh itu fokus pada diri sendiri, bukan fokus pada siapa jodoh saya nanti. Siapa itu tergantung ada apa dalam diri kita? Sepokat? 

Jangan menuliskan nama seseorang dalam buku impian untuk menjadi jodoh kita. Karena belum tentu doi juga begitu. Kalaupun sama, masa depan tiada yang tau. Hati itu mudah sekali goyah. Rugi jika kita menuliskan nama seseorang padahal rencana untuk menikah masih jauh. Bisa jadi nanti menyesal pada saat bertemu dengan orang yang lebih WOW dibanding orang yang kita tulis tersebut.

Kalau sudah mantaPPP, bagi pria lamarlah wanita tersebut. Bagi wanita, mintalah untuk dilamar. Tak apa, Khadijah istri Rasulullah pun demikian. Disarankan untuk segera meminang agar menjauhi dari bahaya khalwat (baca postingan Mewaspadai Bahaya Khalwat).

Bagaimana jika ikhtiar sudah dilakukan semaksimal mungkin tapi belum juga dipertemukan? Sabar. Hanya itu yang bisa kita lakukan. Sabar itu tidak lesu, tidak lemah, dan pantang menyerah (QS. 3:146). Maksudnya kita teruskan ikhtiar sambil mengevaluasi, mungkin saja itu kesalahan dari diri sendiri. Yakinlah, Allah memberikan segala sesuatu itu tepat waktu (baca postingan Tepat Waktu).

MantaPPPkan ikhtiar langit, iringi dengan ikhtiar bumi. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Jika Allah menakdirkan kita tak berjodoh di dunia, sudah siapkah? Maka daripada itu, luruskan niat menikah karena Allah bukan karena kecintaan kita pada lawan jenis.


@imardalilah

p1

Re-Solusi

Kenapa kita baru teringat waktu jika tahun berganti? Kemanakah kita selama ini? Kemanakah hari-hari yang kita jalani? Bukankah satu tahun itu adalah kumpulan hari-hari yang telah kita lewati?

Resolusi, bukan hanya untuk diingat akhir atau awal tahun. Ianya mesti diingat setiap hari, ya setiap hari. Agar akhir atau awal tahun nanti kita tak berkata "Ah, kemana saja aku selama ini? Kenapa waktu begitu cepat berlalu? Baru saja aku menyusun resolusiku dan belum tercapai, kini tahun akan berganti".


Ingatkah isi surat Al 'Ashr? Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Jika saja kita mengamalkan surat tersebut, niscaya kata-kata yang biasa kita ucapkan diakhir dan awal tahun itu tidak akan terucap lagi. Jika pergantian tahun kita ucapkan selamat tahun baru, bukankah hal yang seharusnya pula untuk mengucapkan selamat hari baru karena adanya pergantian hari?

THINK AGAIN ! NGACA AGAIN ! BAYANGIN AGAIN ! RASAIN AGAIN !


Awal tahun dijadikan momentum untuk menjalani hidup yang lebih baik. Namun sering sekali kita lupa akan resolusi yang telah kita tetapkan. Saya tuliskan Re-Solusi, yang artinya kembali pada solusi. Lalu harus bagaimana menyikapi resolusi tersebut? Mudah saja.


Evaluasi resolusi tahun lalu, evaluasi action-nya, evaluasi komitmen dan konsistensinya. Kemudian perbaiki dalam resolusi yang baru, baik actionnya, komitmennya maupun konsistensinya. Ingat, resolusi harus berdasarkan visi (tujuan) hidup. Bukan sekedar keinginan memiliki barang ini itu, tapi lebih daripada itu. Hal yang lebih besar lagi yang ingin diraih.


Dalam buku Kubik Leadership motivasi manusia ada 3 (tiga) yaitu to have, to be, dan valency. Jika resolusi kita masih ada dalam tahap to have, kita hanya manusia yang memiliki nafsu tak terbatas. Bisa jadi menghalalkan segala cara untuk dapat mewujudkannya. Jadi, milikilah tujuan hidup yang lebih tinggi dan luas. Satu lagi, kenalilah diri dan kenali potensi diri. 


Jadi apa resolusimu?



@imardalilah

p1

Tepat Waktu

Semua itu Allah berikan tepat waktu, ga ada yang telat, ga ada yang kecepetan. Sekalipun itu atas kesalahan kita, sekalipun itu atas kerja keras kita. Jika kita merasa diperlambat atau dipercepat itu atas izin atau kehendak Allah.

Intinya, manusia tugasnya berusaha dan doa. Allah yang menentukan hasil. Kalo Allah izinkan bahkan kehendaki, ga akan ada yang bisa melawanNya. Perbanyak dan perkuat sadja ikhtiarnya, supaya Allah mau 'nego' sama hasil yang akan Dia berikan.

Guru saya mengatakan, KESIAPAN bertemu KESEMPATAN akan menghasilkan KEBERUNTUNGAN. Berarti keberuntungan itu bukan suatu hal yang tiba-tiba Allah berikan tapi karena kita telah siap pada saat kesempatan itu datang.


By the way, bukan berarti karena "Allah berikan semua itu tepat waktu" maka kita selalu jadikan kalimat itu sebagai perisai kita pada saat kita 'gagal'. Kita lupa menghisab diri sendiri, menghisab apa saja yang sudah kita lakukan sehingga Allah izinkan hal itu terjadi.

Maka, kalimat itu tidak serta merta berlaku untuk kita karena kita harus melihat terlebih dahulu ke dalam diri kita. Sampai akhirnya kita temukan 'kesalahan' yang menghambat itu, yang menyebabkan Allah mengizinkan kita 'gagal'.

Setelah menghisab diri, ikhtiar lagi, hisab lagi, ikhtiar lagi, terus hingga Allah izinkan apa yang kita kehendaki terjadi, kita akan tau apa pelajaran yang Allah berikan dari 'kegagalan demi kegagalan' yang Allah izinkan dalam perjalanan kita. Hingga akhirnya barulah kita bisa berkata "Allah berikan semua itu tepat waktu".


@imardalilah

p1

Mewaspadai Bahaya KHALWAT

Janganlah salah seorang dari kalian berKHALWAT dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad)


“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia berKHALWAT dengan seorang wanita tanpa ada mahrom wanita tersebut, karena syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad)


“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali jika bersama dengan mahrom sang wanita tersebut." (HR. Bukhari)



BerKHALWAT adalah salah satu perkara MENDEKATI ZINA. Mendekati zina itu bukan hanya PACARAN, tapi juga kegiatan-kegiatan Pria-Wanita yang di haramkan dan dilarang. Pada zaman modern ini, banyak KHALWAT yang terjadi melalui komunikasi modern seperti SMS, BBM, WhatsApp, Line, Kakao Talk, Twitter, Facebook, Telepon, Email, dsb. 

Komunikasi tersebut diperbolehkan, hanya saja perlu diingat dan dijaga agar tidak menyampaikan sesuatu yang tak sepantasnya. Terlebih dalam komunikasi modern tersebut tak ada MAHROM, tak ada yang tau apa yang dibicarakan, apa yang dibahas, maka dari itu hanya diri sendirilah yang dapat menjaga dari berKHALWAT tersebut.

Apapun yang kita lakukan di dunia ini, pasti di hisab di Yaumul Hisab nanti. Sebesar dzarrah (lebih kecil dari debu) pun diperhitungkan kebaikan dan keburukan yang telah kita lakukan. Handphone, akun sosial media kita pun pasti akan dihisab nanti. Menjadi ladang amal kah atau justru ladang maksiat?

Maka, apakah kita akan terus berperilaku seENAK DENGKUL dan JIDAT kita? Apakah kita masih PEDE bahwa tiada Allah yang Maha Melihat? Atau justru kita lebih khawatir dan takut jika MAKSIAT yang kita lakukan diketahui oleh manusia ketimbang Allah? Ingat apa itu IHSAN? ialah beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah dan jika kita tidak melihat Allah, Allah selalu melihat kita. CCTV Allah dimana-mana. 



Ini adalah bagian dari pengamalan Surat Al 'Ashr, QS. 42:48 dan QS. 3:20 (menyampaikan)

Semoga kita semua terlindung dan menjauhkan diri dari berKHALWAT.


@imardalilah

p1

NIKAH? Buat Apa?

Nikah, kata yang mungkin bisa bikin yang masih single mati gaya, apalagi kalo ditanya "kapan nikah?" Atau juga bikin perasaan ga karuan gimana gitu :D
Kenyataannya kalo si single ditanya mau nikah apa ga, jawabannya pasti mau. Tapi kalo ditanya siap apa ga, wah belum tentu banyak yang jawab siap. Saya sendiri merasakan sih :D
Nah beda hal kalo ada orang yang sering bahas NIKAH. Pasti deh di cap NGEBET nikah. Padahal belum tentu. Itu yang saya rasain sekarang. Dua tahun belakangan ini saya sering banget bahas nikah pada teman-teman saya. Wah awal-awal tuh beneran di cap GENIT, CENTIL, kecil-kecil ko omongannya nikah mulu (saat itu usia saya sekitar 20 tahun). Agak ‘panas’ juga ya.

Honestly, saya bukan NGEBET nikah tapi saya pengen orang dilingkungan saya itu AWARE terhadap pernikahan. Kenapa?
Saya ceritakan, berawal dari adik kelas saya selalu menyarankan saya untuk sesegera mungkin menikah setelah lulus kuliah. Dalam frame saya, nikah itu bukan yang mesti disegerakan. Saya sudah punya rencana untuk melanjutkan kuliah S2 lalu berkarier setelah itu baru menikah. Yaaa mindset kebanyakan wanita yang masih belum paham ilmunya.
Sering sekali adik kelas saya bilang kayak gitu. Sampai akhirnya saya mulai paham WHY-nya, dan semakin bertambah ilmu setelah ketemu akun twitter ustadz Felix, Tweet Nikah, juga buku Menikah Untuk  Bahagia-nya Pak Noveldy. Dari situ mulai lah saya menyebar virus nikah :D Tujuannya bukan ngomporin orang untuk cepetan nikah tapi lebih kepada PERSIAPAN
Menikah itu bukan sekedar menyatukan dua orang yang saling cinta tapi gerbang membangun satu generasi, suatu peradaban yang lebih baik lagi. Kebayang ga kalo kita nikah tanpa ilmu? Tanpa pengetahuan? Tanpa keterampilan? Waduh, kayak lagi di kamar eh terus mati listrik. Bisa ke jedot sana sini.
Saya tambah yakin dan semangat untuk menyebarkan 'virus' tersebut, didukung oleh latar belakang pendidikan (kuliah) dan juga bisnis yang saya jalankan (bimbingan belajar). Ditambah realitas kehidupan anak-anak zaman sekarang yang udah ampun-ampunan deh pergaulannya.
Menikah tanpa ilmu, bisa jadi tujuan kita cuma karena kita ga tau lagi mesti melewati fase kehidupan seperti apa, fase kehidupan yang mana lagi, bukan untuk beribadah, bukan untuk menghasilkan generasi yang lebih baik dibanding kita. Bisa jadi karena tanpa ilmu, cara-cara yang kita lakukan pra nikah (mendapatkan pasangan) bukan cara yang Allah tetapkan, bukan cara yang Rasulullah ajarkan.

Yups, PACARAN (PAke CARA Nikah), KEBABLASAAAAN ! Ga cuma itu, masih banyak juga yang pake MODUS buat deketin lawan jenisnya. Padahal sama aja. (Bisa baca tulisan saya tentang Mewaspadai Bahaya Khalwat)
Kalo kita menuju pernikahan pake cara-cara seperti itu ibarat kita dapat buah mangga tapi boleh nyolong. Mangga-nya halal, tapi caranya? HARAM ! Terus kalo dimakan, tubuh kita mengandung hal yang haram juga bukan? Tegakah kita terhadap calon anak kita nanti? Sayangilah anak kita dari sebelum ia lahir, dengan cara apa? Yaa tadi, pakailah cara-cara yang sudah Rasulullah tetapkan.

Sungguh, pernikahan bukan sekedar Romantic Love tapi lebih dari itu. Salah satunya membangun satu generasi penerus bangsa yang akan mengubah dunia ini jadi lebih baik.
Berpikirlah yang luas, berpikirlah yang panjang, bukan soal perasaan kita terhadap si calon pasangan kita saja. Bagaimana mungkin kita mendidik anak tapi kita ga punya ilmunya? Persiapkan juga diri kita menjadi orang tua yang memang pantas Allah berikan anak yang soleh/ah. Kalo kita mendidik anak dengan ilmu atau cara yang orang tua ajarkan pada kita apakah tepat?
Kita tidak hanya mewariskan harta pada anak tapi juga ilmu, termasuk cara kita mendidik anak kita yang nanti dia pun menerapkan cara tersebut kepada anaknya kelak. Lalu cucu kita menggunakan cara yang sama dalam mendidik anaknya. Terus begitu, tak terhingga. Kebayang kita sudah bikin suatu peradaban kan? Kalo kita mendidik anak dengan cara yang salah, bukankah kita dimintai pertanggung jawabannya kelak?
Saya memang belum menikah, insya Allah saya bukan sok tau. Ilmu ini saya dapatkan dari orang-orang sekitar, dari buku-buku, dari guru, dan yang pasti dari pengalaman orang lain. Kata Allah, apa-apa yang terjadi adalah tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berpikir. Nah makanya saya berpikir tentang kejadian-kejadian rumah tangga di sekitar saya. Ga cuma itu sih, turunnya moral anak-anak sekarang juga jadi pemikiran saya.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan semoga para pendakwah yang masih single, yang banyak membahas nikah tidak lagi di cap ngebet nikah karena nikah itu bukan perlombaan. Kalo ngebet itu terkesan buru-buru. Beda dengan menyegerakan, itu ada persiapan. 

By the way, Guru saya mengatakan "Wedding berbeda dengan Marriage. Wedding itu pesta pernikahan, Marriage itu pernikahan -seumur hidup. Jadi persiapkan Marriage, bukan sekedar Wedding yang cuma sehari".
Baik wanita maupun pria, persiapkanlah diri kita sebaik mungkin. Tidak sekedar memikirkan pesta pernikahannya tapi setelah pesta pernikahan usai.  Fokus pada perbaikan diri BUKAN fokus pada siapa jodoh kita nantinya. Siapa itu tergantung ada apa dalam diri kita :D
"Tumbuhan yang tumbuh di semaian tidak seperti tumbuhan yang tumbuh di tanah kering. Wajarkah bila anak-anak diharapkan sempurna, sedang ia disusui oleh susu ibu yang banyak kekurangan" 
(Manajemen Gejolak)

@imardalilah

p1

Seandainya Boleh Memilih

Seandainya boleh memilih, setiap anak lebih menghendaki dilahirkan oleh ibu yang cerdas dibandingkan dengan bapak yang cerdas. Karena kecerdasan anak memang diturunkan dari gen ibunya. Setiap orang memiliki 23 pasang kromosom, terdiri dari 22 pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom sex. 

Kromosom tersebut berasal dari ibu yang disebut dengan kromosom XX dan dari ayah yang disebut kromosom XY. Tingkat kecerdasan seseorang ditentukan oleh kromosom X yang berasal dari ibu. Demikian pendapat ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands, dr. Ben Hamel. (Kubik Leadership, p.197)

Jadi, apakah wanita akan tetap terkurung dalam ideologi tradisional bahwa "tak perlu sekolah hingga perguruan tinggi, tak perlu wanita itu sekolah sampe bergelar sarjana, magister, doktor, profesor, dll, karena ujungnya dia akan kerja di dapur, kasur, dan sumur". Ini bukan soal dapur, kasur, sumur semata. Tapi ini tentang membangun pemimpin masa depan yaitu anak, dimana ibu adalah madrasah dan guru pertama baginya.


Rasulullah mengatakan "Wanita Adalah Tiang Negara". Apa jadinya jika para wanita di dunia ini tidak mempedulikan pendidikan? Apa jadinya jika seorang ibu tidak memiliki ilmu yang memadai untuk mendidik anak-anaknya? Akan menjadi apakah generasi penerus bangsa? Sudah terbayangkah oleh kita betapa pentingnya pendidikan bagi wanita?

@imardalilah

p1