Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Jodoh Pasti Bertemu

Udah tau kalo jodoh pasti bertemu, ngapain masih juga modus sih? Ngapain masih juga sok-sok nyari jodoh dari sekarang padahal belum siap? Ngapain yang usianya udah dewasa masih galau kayak ABG, masih Ababil?

Udah tau kalo jodoh pasti bertemu, kenapa masih pake cara-cara ga halal? Kenapa ga isi hari-hari dengan memantaskan diri? Kenapa malah nyanyi doang "jodoh pasti bertemu"? Kenapa ga siapin diri, supaya Allah kasih yang PANTAS?

Jangan harap lah nilai (kualitas) kita D, pengen dapet jodoh kualitas A. Jangan ngarep. Peluk aja tuh guling. No Pain, No Gain. No Risk, No Gain. Ada usaha, ya ada hasil lah. Kalo usahanya 'haram' apa iya Allah kasih jodoh 'halal'?

Semua berawal dari diri sendiri. Mau perubahan seperti apa? Silakan mulai dari diri sendiri. Anda berteriak ya Anda bertindak dong. Jangan cuma teriak. Duh masih aja ya galau, emang ga tau kalo galau apalagi di sosmed itu artinya lagi nyebarin kemunkaran? Iyalah, energi negatif.

Udah tau kalo jodoh pasti bertemu, ngapain masih maksain diri pengen deket-deket tanpa kesiapan, tanpa kepantasan? Saya dapat teori, siapa yang suka padamu itulah cerminan dirimu.  Siapa yang kamu suka, itu memperlihatkan kualitas dirimu.

Udah tau kalo jodoh pasti bertemu, terus modus, modus, modus, jurus baru, jurus baru. Yailah, ga zaman brosis. Dunia ini terlalu banyak kemungkinan. Emang ga mikir kalo Allah bisa aja ga ngizinin kita ketemu jodoh di dunia (ga nikah) ? Nah loh, kalo gitu percuma dong ya udah modal perhatian, modal pulsa, modal perasaan, taunya Allah punya kehendak lain?

Makanya, pantaskan sadja diri. Ga usah lah memperlihatkan diri pribadi yang perhatian, penuh kasih sayang, dermawan, suka menabung, dll. Biar Allah yang menunjukkan jalan si jodoh itu melalui kepantasan diri.

Jodoh itu bukan soal siapa tapi ada apa dalam diri kita. Siapa mah gampang, asal ada apa tuh dalam diri kita. Kalo ga ada apa-apa, yaa udah miskin harta, miskin iman (pake cara modus), miskin ilmu, jelek lagi  siapa yang mau kalo bukan orang yang 11 12?

Menikah, bukan suatu perlombaan. Siapa cepat dia menang, tapi mengenai kedewasaan, siapa siap dia selamat. Pantaskan diri, Allah pasti berikan waktu yang pas untuk kita bertemu jodoh dunia akhirat. Keep calm, jika sudah ikhtiar dan Allah izinkan jodoh pasti bertemu.


@imardalilah

p1

Jodohmu Ada Di Sekitarmu

Katanya jodoh itu ada disekitar kita? 

Ya benar, jodoh itu sesungguhnya ada disekitar kita. Coba saja lihat orang-orang yang telah menikah, pasti jodohnya engga jauh-jauh deh. Teman satu komunitas, teman satu perusahaan, teman sekolah dulu, teman dikampus, dan lainnya. Bahkan guru saya bertemu jodohnya via Facebook. Siapa yang menduga?

Jodohmu ada disekitarmu. Artinya jodoh kita tuh ada dalam lingkungan kita. Entah itu perusahaan tempat bekerja, komunitas -baik komunitas alumni, wirausaha, arisan, atau yang lain-, bahkan sosial media. Tandanya kita mesti SILATURAHIM kalau mau dapet jodoh.

Katanya jodoh itu ga kemana, iya tapi kalau ga kemana-mana gimana mau dapet jodoh?

Saya menyebutnya dengan menjemput jodoh. Kenapa bukan mencari? Kata guru saya kalo mencari itu belum tentu jodohnya udah ada. Nah kalo menjemput berarti jodohnya udah ada. Kenapa mesti dijemput? Kalo ga dijemput nanti bisa-bisa diserobot orang lain, hehehe.

Menjemput jodoh jangan sampai salah umpan dan salah kolam. Mau jemput jodoh kelas PAUS eh umpannya cacing atau ikan teri terus mancingnya di sungai. Bodoh itu namanya. Kok bisa begitu? Karena ga tau ilmunya, jadi asal jalan. Keinginan dengan kepantasan ga sesuai.

Contohnya gini deh, mau jodohnya pengusaha yaa gabunglah dengan komunitas pengusaha. Jangan sampai pengen jodoh pengusaha tapi ga pernah keluar rumah, sekalinya keluar rumah cuma buat beli indomie. Kalo kayak gitu yaa dapetnya paling si Brad Pit hansip kampung sebelah. 

Jodoh itu ada disekitarmu. Sekarang tentuin mau kriteria seperti apa, bilang sama Allah. Allah kan Maha Kaya, stok-nya pasti banyak. Ga usah takut ga kebagian. Kalo takut ga kebagian artinya ketauhidan kita perlu dipertanyakan tuh. Masa ga yakin sama Allah Yang Maha Kaya? TER-LA-LU !!!

Kalau udah tau kriterianya seperti apa, tinggal cari tuh 'kolamnya'. Namun sebelumnya sudah mempersiapkan umpan. Apa umpannya? Kepantasan diri dong. Apa sih itu? Duh, nanya mulu yaa kayak wartawan.

Misal mau jodoh pengusaha, cobalah belajar tentang wirausaha. Belajar juga tentang pengembangan diri dan ilmu apapun yang bikin kita punya banyak ilmu dan pengetahuan. Intinya sih fokus pada pengembangan diri. Ibarat bunga dia ga perlu tebar pesona supaya kumbang datengin dia. Begitu juga manusia dalam menjemput jodohnya.

Upgrade diri, jadilah orang yang WOW supaya pesona kita tersebar dan si kumbang-kumbang itu deketin kita deh. Hehehe. Jangan malah tebar pesona sama orang yang kita suka, itu namanya (maaf) 'MURAHAN' dan ga yakin sama Allah. Ketauhidannya mesti dipertanyakan lagi tuh. 

Kalo udah paham umpan apa yang mesti disiapin, lanjut hunting kolamnya. 

Proses penjemputan jodoh itu fokus pada diri sendiri, bukan fokus pada siapa jodoh saya nanti. Siapa itu tergantung ada apa dalam diri kita? Sepokat? 

Jangan menuliskan nama seseorang dalam buku impian untuk menjadi jodoh kita. Karena belum tentu doi juga begitu. Kalaupun sama, masa depan tiada yang tau. Hati itu mudah sekali goyah. Rugi jika kita menuliskan nama seseorang padahal rencana untuk menikah masih jauh. Bisa jadi nanti menyesal pada saat bertemu dengan orang yang lebih WOW dibanding orang yang kita tulis tersebut.

Kalau sudah mantaPPP, bagi pria lamarlah wanita tersebut. Bagi wanita, mintalah untuk dilamar. Tak apa, Khadijah istri Rasulullah pun demikian. Disarankan untuk segera meminang agar menjauhi dari bahaya khalwat (baca postingan Mewaspadai Bahaya Khalwat).

Bagaimana jika ikhtiar sudah dilakukan semaksimal mungkin tapi belum juga dipertemukan? Sabar. Hanya itu yang bisa kita lakukan. Sabar itu tidak lesu, tidak lemah, dan pantang menyerah (QS. 3:146). Maksudnya kita teruskan ikhtiar sambil mengevaluasi, mungkin saja itu kesalahan dari diri sendiri. Yakinlah, Allah memberikan segala sesuatu itu tepat waktu (baca postingan Tepat Waktu).

MantaPPPkan ikhtiar langit, iringi dengan ikhtiar bumi. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Jika Allah menakdirkan kita tak berjodoh di dunia, sudah siapkah? Maka daripada itu, luruskan niat menikah karena Allah bukan karena kecintaan kita pada lawan jenis.


@imardalilah

p1

Terima Kasih

Tuhan terima kasih atas segala yang Kau berikan padaku hingga detik ini. 
Terima kasih Kau berikan raga yang sehat, jiwa yang kuat, keluarga yang penuh dengan kasih sayang dan lingkungan yang luar biasa.

Tuhan terimakasih Kau jadikan aku orang yang beruntung, terimakasih Tuhan.
Tuhan terima kasih atas kesempatan yang Kau beri, kesempatan yang tak bisa dibeli dengan apapun, pengalaman yang amat mahal.
Tuhan terima kasih Kau panggil orang tua ku Sembilan tahun lalu, terima kasih.


Aku tahu Tuhan, Kau selalu punya rencana indah untukku walau dimataku itu tak indah sama sekali.

Terimakasih Tuhan, Kau jadikan aku orang yang tak begitu pintar sehingga aku bisa menerima ilmu-Mu setiap saat. Tuhan terima kasih Kau arahkanku pada jalan-Mu. 
Terimakasih Kau tarik aku dari dunia gelap itu, terimakasih Kau pertemukan aku dengan orang yang membawaku ke tempat-Mu.

Tuhan terimakasih Kau lahirkan aku dalam keluarga yang tak kaya, sehingga aku bisa mengkayakan keluargaku. Tuhan terima kasih atas ujian dan cobaan yang Kau berikan, berkat hal itu aku kini menjadi pribadi yang lebih kuat.

Tuhan terimakasih Kau pertemukan aku dengan orang-orang yang merendahkanku, menghinaku, memanfaatkanku. Dari itu semua aku bangkit dan membalas dengan kesuksesan yang kini kuraih.

Tuhan terimakasih Kau berikan suudzonisme dalam diriku. Dari hal itu aku belajar mengerti orang, aku belajar sabar, aku mengerti bagaimana dinilai tak sesuai dengan kondisiku.

Tuhan tidak mungkin aku bangkit tanpa aku tersungkur. Tidak mungkin aku kaya jika saat ini aku kaya, aku kaya karena sebelumnya aku miskin. Tidak mungkin Tuhan aku benar jika aku tidak berbuat salah. Tidak mungkin Tuhan aku bahagia jika aku tidak pernah menangis. Dan tidak mungkin Tuhan aku berada dipuncak tangga tanpa aku tapaki satu persatu anak tangga.

Tuhan, terima kasih atas semua yang Kau berikan padaku. Aku baru sadar Tuhan bahwa itu semua memang rencana-Mu yang amat indah untukku. Aku baru sadar Tuhan bahwa itu yang aku butuhkan, bahwa semua itu adalah jawaban doa-doaku setiap aku bersujud pada-Mu dan mengangkat kedua tanganku berharap Kau cepat kabulkan keinginanku.

Oh Tuhanku yang Maha Cerdas, cara-Mu menyayangiku membuat aku me-review dan me-rewind kehidupanku dulu yang selalu suudzon pada-Mu, yang selalu menyalahkan-Mu, yang tak pernah menomor satukan Engkau. Cara-Mu indah sekali, Tuhan. Mata ini berkaca-kaca mempelajari arti dari peristiwa yang Kau berikan dalam tiap detik kehidupanku.

Tuhan terima kasih Kau jadikan aku manusia yang lama mengerti maksud-Mu dengan cara-Mu itu. Dengan begitu aku belajar sendiri, aku mencari sendiri, dan akhirnya semua itu berbekas dihatiku.

Entah apalagi yang harus aku ucap pada-Mu Tuhan. Rasa terima kasih apalagi? Kau terlalu banyak memberikan itu semua, Tuhan. Kau Maha baik, Kau Maha Pengasih, Kau Maha Penyayang. Dari-Mu aku belajar ketulusan, dari-Mu aku belajar menjadi pribadi yang dermawan, dari-Mu aku belajar kebaikan. Kau segalanya Tuhan, untukku.

Puluhan tahun aku baru sedikit mengenal-Mu dan aku langsung jatuh cinta pada-Mu. Apalagi jika aku lebih lama mengenal-Mu, pasti aku tergila-gila pada-Mu. 

Izinkan aku berkenalan lebih jauh dengan-Mu. Izinkan aku lebih dalam mengenal-Mu. Izinkan aku lebih dekat dengan-Mu. Tidak ada hal lain yang lebih indah selain Kau Tuhan. Segala puji untuk Engkau, Tuhan yang Maha Kaya.

Tuhan, banyak yang merasakan Engkau itu begitu baik, aku juga merasakannya. Kau itu tidak egois. Kau Tuhan Yang Maha Esa namun mengajarkan pada kami bagaimana berbagi dengan sesama, yang itu kau hitung ibadah juga. Luarrrr biasa.

Pujian apalagi yang harus ku ucap dari lisan ini ? Sedang seumur hidupku pun dipakai untuk berterima kasih pada-Mu rasanya tak akan pernah cukup. Sedang seumur hidupku jika dipakai untuk sujud pada-Mu itu pun tak akan pernah cukup.

Tuhan terima kasih awal aku berkenalan dengan-Mu, aku niatkan agar aku cepat kaya, cepat pintar, lancar urusan kehidupanku, dan kepentinganku lainnya. Dari hal itu aku belajar bahwa seharusnya aku berkenalan dengan-Mu karena ingin kenal diri-Mu bukan demi kepentingan duniaku. 

Harusnya aku menjalin hubungan dengan awal ketulusan dan kasih sayang. Jika kita sudah saling sayang, jika kita sudah dekat, jika kita sudah bersahabat, tidak mungkin sahabatku yang Maha Baik ini menolak permintaanku. Tanpa diminta saja Kau berikan, apalagi diminta.

Tuhan aku ingin sedikit bercerita dari kehidupanku selama ini, dan baru aku sadari hal itu.

Tuhan, amat menyakitkan saat aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. Amat menyakitkan saat aku harus melepaskan hal yang amat aku cintai seperti kehilangan orang tua ku, sangat menyakitkan Tuhan. Tapi Tuhan, percayalah padaku. Aku akan lebih menyakitkan ketika aku tahu bahwa aku mengabaikan-Mu. Percayalah.

Kini aku sadar, aku tidak bisa hidup tanpa rahmat-Mu. Aku tidak bisa tersenyum tanpa rasa damai yang Kau berikan padaku. Dan aku sadar Tuhan, aku tidak bisa memimpin diriku dalam kehidupan ini jika Kau tidak senang padaku.

Tuhan Yang Maha Pemaaf, maafkan aku telah mengabaikan-Mu sekian lama karena aku lebih mencintai hal lain dibandingkan Engkau. Maafkan aku Tuhan karena aku memprioritaskan hal lain dari yang seharusnya, yaitu Engkau Yang Maha Memelihara.

Walau aku berbuat kesalahan sedemikian rupa, namun...

Kau masih memberiku makanan walaupun aku memakan apa yang tidak seharusnya aku makan.

Kau masih berikan aku mata walaupun aku gunakan untuk hal yang tidak seharusnya aku lihat. 


Kau masih berikan aku telinga walaupun aku gunakan untuk mendengar apa yang seharusnya tidak ku dengar. 

Kau masih berikan aku indera peraba walau aku gunakan untuk menyentuh apa yang seharusnya tidak aku sentuh. 

Kau masih berikan aku udara untuk bernafas walau aku banyak berbuat salah pada-Mu.

Bagaimana orang bisa tidak bersujud serta jatuh cinta pada-Mu? Kau Maha baik, Tuhan. Kau Maha Pemurah, Kau Maha Besar Tuhan. Tapi aku lupa. Aku terlalu ambisius dengan dunia, aku amat sibuk dengan hidupku, aku sangat sibuk dengan diriku sendiri.

Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika hal itu terjadi lagi. Bagaimana mungkin aku bisa aku melakukannya pada-Mu, Tuhan? Aku hamba yang angkuh. Aku tidak tahu terimakasih pada-Mu. Aku malu Tuhan terhadap diriku, lingkunganku, apalagi terhadap diri-Mu.

Dari semua itu Tuhan, aku berterimakasih dari kesalahanku tersebut. Terima kasih kau izinkan aku berbuat salah sehingga aku menemukan kebenaran.



Terima kasih terima kasih terima kasih Kau selalu bersamaku.

@imardalilah

p1

NIKAH? Buat Apa?

Nikah, kata yang mungkin bisa bikin yang masih single mati gaya, apalagi kalo ditanya "kapan nikah?" Atau juga bikin perasaan ga karuan gimana gitu :D
Kenyataannya kalo si single ditanya mau nikah apa ga, jawabannya pasti mau. Tapi kalo ditanya siap apa ga, wah belum tentu banyak yang jawab siap. Saya sendiri merasakan sih :D
Nah beda hal kalo ada orang yang sering bahas NIKAH. Pasti deh di cap NGEBET nikah. Padahal belum tentu. Itu yang saya rasain sekarang. Dua tahun belakangan ini saya sering banget bahas nikah pada teman-teman saya. Wah awal-awal tuh beneran di cap GENIT, CENTIL, kecil-kecil ko omongannya nikah mulu (saat itu usia saya sekitar 20 tahun). Agak ‘panas’ juga ya.

Honestly, saya bukan NGEBET nikah tapi saya pengen orang dilingkungan saya itu AWARE terhadap pernikahan. Kenapa?
Saya ceritakan, berawal dari adik kelas saya selalu menyarankan saya untuk sesegera mungkin menikah setelah lulus kuliah. Dalam frame saya, nikah itu bukan yang mesti disegerakan. Saya sudah punya rencana untuk melanjutkan kuliah S2 lalu berkarier setelah itu baru menikah. Yaaa mindset kebanyakan wanita yang masih belum paham ilmunya.
Sering sekali adik kelas saya bilang kayak gitu. Sampai akhirnya saya mulai paham WHY-nya, dan semakin bertambah ilmu setelah ketemu akun twitter ustadz Felix, Tweet Nikah, juga buku Menikah Untuk  Bahagia-nya Pak Noveldy. Dari situ mulai lah saya menyebar virus nikah :D Tujuannya bukan ngomporin orang untuk cepetan nikah tapi lebih kepada PERSIAPAN
Menikah itu bukan sekedar menyatukan dua orang yang saling cinta tapi gerbang membangun satu generasi, suatu peradaban yang lebih baik lagi. Kebayang ga kalo kita nikah tanpa ilmu? Tanpa pengetahuan? Tanpa keterampilan? Waduh, kayak lagi di kamar eh terus mati listrik. Bisa ke jedot sana sini.
Saya tambah yakin dan semangat untuk menyebarkan 'virus' tersebut, didukung oleh latar belakang pendidikan (kuliah) dan juga bisnis yang saya jalankan (bimbingan belajar). Ditambah realitas kehidupan anak-anak zaman sekarang yang udah ampun-ampunan deh pergaulannya.
Menikah tanpa ilmu, bisa jadi tujuan kita cuma karena kita ga tau lagi mesti melewati fase kehidupan seperti apa, fase kehidupan yang mana lagi, bukan untuk beribadah, bukan untuk menghasilkan generasi yang lebih baik dibanding kita. Bisa jadi karena tanpa ilmu, cara-cara yang kita lakukan pra nikah (mendapatkan pasangan) bukan cara yang Allah tetapkan, bukan cara yang Rasulullah ajarkan.

Yups, PACARAN (PAke CARA Nikah), KEBABLASAAAAN ! Ga cuma itu, masih banyak juga yang pake MODUS buat deketin lawan jenisnya. Padahal sama aja. (Bisa baca tulisan saya tentang Mewaspadai Bahaya Khalwat)
Kalo kita menuju pernikahan pake cara-cara seperti itu ibarat kita dapat buah mangga tapi boleh nyolong. Mangga-nya halal, tapi caranya? HARAM ! Terus kalo dimakan, tubuh kita mengandung hal yang haram juga bukan? Tegakah kita terhadap calon anak kita nanti? Sayangilah anak kita dari sebelum ia lahir, dengan cara apa? Yaa tadi, pakailah cara-cara yang sudah Rasulullah tetapkan.

Sungguh, pernikahan bukan sekedar Romantic Love tapi lebih dari itu. Salah satunya membangun satu generasi penerus bangsa yang akan mengubah dunia ini jadi lebih baik.
Berpikirlah yang luas, berpikirlah yang panjang, bukan soal perasaan kita terhadap si calon pasangan kita saja. Bagaimana mungkin kita mendidik anak tapi kita ga punya ilmunya? Persiapkan juga diri kita menjadi orang tua yang memang pantas Allah berikan anak yang soleh/ah. Kalo kita mendidik anak dengan ilmu atau cara yang orang tua ajarkan pada kita apakah tepat?
Kita tidak hanya mewariskan harta pada anak tapi juga ilmu, termasuk cara kita mendidik anak kita yang nanti dia pun menerapkan cara tersebut kepada anaknya kelak. Lalu cucu kita menggunakan cara yang sama dalam mendidik anaknya. Terus begitu, tak terhingga. Kebayang kita sudah bikin suatu peradaban kan? Kalo kita mendidik anak dengan cara yang salah, bukankah kita dimintai pertanggung jawabannya kelak?
Saya memang belum menikah, insya Allah saya bukan sok tau. Ilmu ini saya dapatkan dari orang-orang sekitar, dari buku-buku, dari guru, dan yang pasti dari pengalaman orang lain. Kata Allah, apa-apa yang terjadi adalah tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berpikir. Nah makanya saya berpikir tentang kejadian-kejadian rumah tangga di sekitar saya. Ga cuma itu sih, turunnya moral anak-anak sekarang juga jadi pemikiran saya.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan semoga para pendakwah yang masih single, yang banyak membahas nikah tidak lagi di cap ngebet nikah karena nikah itu bukan perlombaan. Kalo ngebet itu terkesan buru-buru. Beda dengan menyegerakan, itu ada persiapan. 

By the way, Guru saya mengatakan "Wedding berbeda dengan Marriage. Wedding itu pesta pernikahan, Marriage itu pernikahan -seumur hidup. Jadi persiapkan Marriage, bukan sekedar Wedding yang cuma sehari".
Baik wanita maupun pria, persiapkanlah diri kita sebaik mungkin. Tidak sekedar memikirkan pesta pernikahannya tapi setelah pesta pernikahan usai.  Fokus pada perbaikan diri BUKAN fokus pada siapa jodoh kita nantinya. Siapa itu tergantung ada apa dalam diri kita :D
"Tumbuhan yang tumbuh di semaian tidak seperti tumbuhan yang tumbuh di tanah kering. Wajarkah bila anak-anak diharapkan sempurna, sedang ia disusui oleh susu ibu yang banyak kekurangan" 
(Manajemen Gejolak)

@imardalilah

p1

Cinta Dalam Diam

Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam. Karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya. Kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, karena kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya. Karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu. 

Menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu. Karena diammu adalah bukti kesetiaanmu padanya. Karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah Allah pilihkan untukmu.

Ingatkah kamu tentang kisah Fatimah dan Ali? Yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan. Hingga pada akhirnya mereka di pertemukan dalam ikatan suci nan indah.
Karena dalam diammu tersimpan kekuatan, Kekuatan harapan. Hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata.

Bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap padanya?
Dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap diam. Jika dia memang bukan milikmu, toh Allah, melalui waktu akan menghapus 'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat. Biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu, hanya antara kau dan Dia.

Namun sayang, Cinta Dalam Diam era zaman modern saat ini sudah berubah. Diam-diam perhatian, diam-diam curi-curi pandang, diam-diam berduaan, diam-diam mencuri kesempatan dalam kesempitan, diam-diam ngobrol panjang lebar berdua, diam-diam sms-an, diam-diam bbm-an, dan diam-diam yang entah masih ada berapa lagi.

Sulit rasanya meneladani Fatimah dan Ali. Pasti ada saja selubang jarum perasaan yang akan merusak kesucian cinta dalam diam itu. Dan selubang jarum itu dibiarkan begitu saja hingga membesar dan menjadi noktah dalam hati. Aduhai sangat meruginya kita. Apakah itu kita? Atau ada di sekitar kita.

Jika kita tak sanggup dengan Cinta Dalam Diam, jangan terus dipaksakan dan berkelit meneladani Fatimah dan Ali. Setan itu menggoda dari berbagai arah. Jangan memulai yang tak bisa kau akhiri. Jangan memulai apa yang kau tak sanggup menanggungnya. Segera akhiri, halalkan atau tinggalkan, Love Me or Love Me Not.

Bukankah akan semakin sakit kala ilmu belum siap, kala iman masih labil, kala kedewasaan belum menapak di Bumi, kita bermain-main dengan perasaan? Semakin lebih sakit saat orang yang kita Cinta Dalam Diam ternyata memilih orang lain atau dilamar orang lain atau melamar orang lain? Sedang diri belum siap dengan segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Jodoh itu tentang ketauhidan. Bagaimana kita percaya, kita yakin bahwa Allah pasti berikan yang terbaik. Sesuai kebutuhan kita. Tinggallah kita yang berusaha, berikhtiar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dari kesungguhan ikhtiar itulah takdir bisa berubah. Jodoh adalah takdir yang dipilih, maka pilihlah memfokuskan memperbaiki diri bukan fokus mencari siapa jodohku nanti. Ayolah, jodoh bukan tentang 'siapa' tapi tentang 'apa yang kita miliki'.

Jadi, jangan mulai yang tak bisa kita akhiri. Love Me or Love Me Not, Halalkan atau Tinggalkan!

@imardalilah

p1